Kamis, 08 November 2012

Cara-Cara Curang Saat Lomba




                 Kehidupan kita saat ini memang tak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Termasuk di antaranya dalam hobi burung berkicau, hingga sampai ke pernik-pernik atau teknis lomba. Dalam merawat burung lomba , yaitu mengisi suara master misalnya, kicaumania zaman sekarang tidak harus dengan merawat burung master yang memang repot. Kini suara master bisa diganti oleh perangkat elektronik yang kualitasnya tak beda jauh.
Handphone di dasar sangkar burung untuk lomba
Handphone di dasar sangkar burung untuk lomba
             Hal di atas adalah sentuh pemanfaatan teknologi untuk hal-hal yang positif. Tentu, kita memberi acungan jempol terhadap mereka yang kreatif menciptakan perangkat elektronik untuk mengisi suara master. Namun belakangan ini juga ditengarai ada pula pemanfaatan teknologi untuk kepentingan yang kurang bagus, atau bisa dikatakan berbau curang.
             Zaman dulu, orang banyak akal untuk menyiasati agar burung mau gacor dan nge-fight ketika ditarungkan. Dalam sebuah even, pernah seorang korlap meminta para juri untuk tidak menilai salah satu peserta. Setelah ditelisik, ternyata karena sang korlap melihat salah satu peserta memasang kaca cermin di bagian bawah sangkar.
              Oleh sang korlap, memasang kaca cermin dianggap curang sehingga si peserta didiskualiiikasi. Tentu, kita masih bisa berdebat soal ini, sebab memang tak ada aturan yang tegas soal ini.

Pasang cermin, lepas kadal
              Memancing sang jagoan supaya mau bunyi memang banyak cara. Paling umum adalah dengan memanggil-manggil namanya dari pinggir lapangan, melambaikan tangan, meniup peluit dan semacamnya, memukul-mukul benda atau bahkan pagar besi yang jadi pembatas lapangan.
Ada pula yang lebih unik, memasukkan hewan melata seperti kedal di bagian bawah sangkar untuk jenis burung tertentu yang akan bunyi ketika ketakutan, misalnya jenis cucak jenggot.
Apakah dengan memasukan benda asing, termasuk hewan lain ke dalam sangkar boleh dilakukan, itulah pertanyaan kita.
               Di salah satu sesi anis merah di Bupati Cup Sukoharjo, seperti ditulis Tabloid Agrobur, banyak penonton termenung dan menoleh-noleh ke perbagai arah. Sebabnya, ada suara aneh bin misterius yang datangnya dari dalam lapangan, dari salah satu sangkar peserta. Suaranya sih biasa, suara master kek-kekekek seperti suara burung tengkek.
               Yang menakjubkan adalah karena volumenya yang kelewat tembus sehingga diyakini itu bukan suara burung anis merah. “Bisa roboh itu gantangan kalau sampai ada anis merah suaranya sekeras itu,” ujar salah satu peserta untuk memberi gambaran bahwa itu pasti bukan suara burung.
               Lantas suara apakah itu? Sebagian orang memastikan bahwa itu adalah suara perangkat elektronik yang ditaruh di dalam sangkar, dan suaranya dipandu dari pinggir lapangan.
              Di sesi kelas yang lain, memang didapati ada sangkar burung yang baru turun dari lapangan di bagian bawah sangkar ternyata ada HP-nya.
             Rupanya HP itu dikasih nomor khusus yang hanya dipakai untuk lomba, suara-suara burung tertentu dimasukkan sebagai ringtone, kemudian pada saat yang diiinginkan nomor HP yang di sangkar dipanggil dari pinggir. Si pemilik burung beralasan, bahwa ini semata-mata untuk memancing si burung agar mau bunyi karena merasa ada musuh.
            Benarkah seperti itu? Bagaimana kalau suara dari ringtone HP atau kalau ada perangkat elektronik lain yang bisa diatur bunyinya dari pinggir lapangan itu menipu telinga juri sehingga dikira lagu yang keluar dari si burung (karena dibunyikan berbarengan dengan saat si burung bunyi)? Tentu saja, gacoan itu menjadi sangat lengkap dan merdu suaranya.
            Nah pada kasus di Sukoharjo saat sesi anis merah, rupanya si pemilik burung salah menyetel voluem perangkat elektronik terlalu keras, sehingga sampai kedengaran terlalu mencolok dari luar lapangan.
Masalah memasukkan perangkat elektronik ke dalam sangkar, sekarang rupanya tidak hanya dilakukan bleh satu dua orang dan bukan lagi merupakan rahasia tersimpan rapi.
           Pertanyaanya adalah bolehkan cara-cara seperti ini dilakukan? Apakah itu bukan merupakan tindakan curang dan mencederai sportivitas yang semestinya diagungkan dalam dunia hobi?
Nah, mari sama-sama kita diskusikan dan suatu saat harus ketemu kesimpulan dan solusi sebelum kelewat parah.
Bagaimana komentar Anda? Hehehehehe…. 

(Sumber info: Tabloid Agrobur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar